Peraturan Bank Indonesia untuk Nasional Payment Gateway

January 14, 2018

Bank Indonesia (BI) resmi menerbitkan aturan yang menjadi payung hukum terbentuknya integrasi sistem pembayaran nasional. Terbitnya aturan terkait Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) atau yang dikenal sebagai National Payment Gateway (NPG) diharapkan dapat mendorong peningkatan penggunaan transaksi nontunai oleh masyarakat. latar belakang diterbitkanya Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 19/8/PBI/2017 tentang Gerbang Pembayaran Nasional antara lain untuk mewujudkan sistem pembayaran nasional yang lancar, aman, efisien, dan andal sekaligus memudahkan pemrosesan transaksi pembayaran ritel domestik agar dapat dijalankan dengan saling terhubung (interkoneksi) dan saling dapat dioperasikan (interoperabilitas).

Peraturan Bank Indonesia (PBI) ini mulai berlaku pada tanggal 22 Juni 2017 PBI tentang Gerbang Pembayaran Nasional mengatur tujuh hal penting terkait implementasi integrasi sistem pembayaran nasional. Pertama, ruang lingkup GPN mencakup transaksi pembayaran secara domestik yang meliputi tiga hal, yakni keterhubungan antara jaringanswitching yang satu dengan jaringan switching yang lainnya, interkoneksi dan interopabilitas kanal pembayaran atau keterhubungan antara jaringan pada kanal pembayaran satu dengan kanal pembayaran lain yang memungkinkan penggunaan instrumen pembayaran selain dari infrastruktur penerbit. Terakhir, mencakup interopabilitas instrumen pembayaran pada infrastruktur selain penerbit instrumen pembayaran yang bersangkutan. Kedua, PBI mengatur mengenai syarat-syarat bagi penyelenggara GPN. Kata Onny, pihak dalam GPN ini secara umum dibagi dua, yakni penyelenggara dan pihak yang terhubung dengan GPN. Pihak yang terhubung dengan GPN, meliputi penerbit, acquirer, penyelenggara payment gataway, dan pihak lainnya yang ditetapkan BI. Sedangkan penyelenggara GPN meliputi Lembaga Standar, Lembaga Switching, dan Lembaga Services. Masing-masing lembaga punya kriteria tersendiri yang diatur rinci dalam PBI tentang Gerbang Pembayaran Nasional. yang dimaksud dengan lembaga switching itu adalah infrastruktur yang berfungsi sebagai pusat dan penghubung penerusan data transaksi pembayaran yang menggunakan alat pembayaran dengan menggunakan kartu (APMK), uang elektronik, dan/atau transfer dana.

Lembaga standar adalah spesifikasi teknis dan operasional yang dibakukan. Sementara, lembaga services adalah layanan yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan industri sistem pembayaran ritel. Kriteria dan Syarat Penyelenggaraan Gerbang Pembayaran Nasional 1 Lembaga Standar · Merupakan representasi dari industri sistem pembayaran nasional; · Berbadan Hukum Indonesia; · Memiliki kompetensi untuk menyusun, mengembangkan, dan mengelola standar dalam rangka interkoneksi dan interopabilitas berbagai instrumen dan kanal pembayaran 2 Lembaga Switching · Memperoleh izin sebagai penyelenggara izin oleh BI; · Telah melaksanakan pemrosesan pembayaran transaksi pembayaran domestik menggunakan infrastruktur yang dimiliki di Indonesia; · Kepemilikan sahamnya paling sedikit 80% dimiliki WNI atau Badan Hukum Indonesia. Dalam hal terdapat kepemilikan asing pada lembaga switching, maka perhitungan kepemilikan asing meliputi kepemilikan secara langsung maupun secara tidak langsung sesuai dengan penilaian BI. Lembaga switching yang telah memperoleh persetujuan BI wajib tetap memenuhi persentase kepemilikan saham dimaksud. Lembaga switching juga harus meminta persetujuan BI dalam hal melakukan perubahan modal dan/atau susunan pemegang saham; · Mampu dan memiliki kapasitas untuk melaksanakan fungsi switching di GPN; · Memiliki modal disetor paling sedikit Rp 50 milyar. 3 Lembaga Services · Berbadan hukum Indonesia berbentuk PT; · Mampu dan memiliki kapasitas untuk melaksanakan fungsi services di GPN; · Sahamnya dimiliki oleh: (1) Seluruh lembaga switching; (2) Bank Buku IV yang mayoritas sahamnya dimiliki WNI atau Badan Hukum Indonesia. Pelaksanaan kepemilikan saham oleh seluruh bank umum berdasarkan kegiatan usaha Buku IV dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kesiapan masing-masing bank Onny menjelaskan, proses permohonan penetapan lembaga standar dan lembaga services, serta persetujuan lembaga switching menurut aturan ini dilakukan oleh BI dengan mekanisme penelitian administratif, analisis kelayakan pihak yang mengajukan dan pemeriksaan terhadap pihak yang mengajukan, sepanjang diperlukan. Lebih jauh, BI menurut aturan ini dapat menetapkan lembaga standar dengan kriteria lembaga tersebut merupakan pihak yang menjadi pengelola standar nasional teknologi chip untuk kartu ATM dan/atau kartu debet. Kata Onny, standar nasional teknologi chip tersebut ditetapkan sebagai standar kartu debet untuk digunakan pada GPN. Menurut PBI ini, sebelum lembaga services ditetapkan, seluruh tugas dan wewenang lembaga services dilaksanakan oleh pihak yang ditunjuk BI dengan memperhatikan masukan dari industri sistem pembayaran. Lalu, bagi lembaga switching yang telah memperoleh izin principal sebelum PBI ini berlaku, dapat mengajukan permohonan persetujuan sebagai lembaga switching sesuai izin principal yang telah diperolehnya paling lambat tiga bulan sejak aturan ini terbit atau sekira bulan September 2017. Namun mesti diperhatikan, permohonan itu baru akan diproses sepanjang lembaga switching tersebut telah melaksanakan pemrosesan transaksi pembayaran secara domestik dengan menggunakan infrastruktur yang dimiliki di Indonesia. Lalu, lembaga switching itu memenuhi kepemilikan saham paling sedikit 80% dimiliki WNI atau badan hukum Indonesia, dan memiliki kapasitas untuk melaksanakan fungsi switching di GPN. Ketiga, PBI tentang Gerbang Pembayaran Nasional mengatur soal kerjasama lembaga switching. Menurut aturan ini, lembaga switching harus dapat melakukan kerjasama dengan penyelenggaraswitching di luar GPN sepanjang telah memperoleh persetujuan dari BI. Mesti dicatat, lembagaswitching harus memastikan bahwa transaksi pembayaran domestik melaui pihak yang bekerjasama dengan lembaga switching diproses melalui GPN. Keempat, kewajiban pihak yang terhubung dengan GPN. Terkait pelaksanaan interkoneksi dan interopabilitas, pihak yang terhubung dengan GPN wajib mematuhi dan melaksanakan standar yang ditetapkan BI dan dikelola lembaga standar serta mematuhi ketentuan yang ditetapkan lembagaservices. Selain itu, pihak yang terhubung dengan GPN ini juga harus terhubung dengan anggota pada paling sedikit dua lembaga switching kecuali untuk instrumen yang dapat saling interopabilitas tanpa melalui lembaga switching. Kelima, ketentuan terkait setelmen atau penyelesaian akhir. Lembaga switching dan lembagaservices wajib memproses penyelesaian akhir di BI. Onny menjelaskan, Tata cara dan mekanisme kepesertaan kedua lembaga itu mengacu pada ketentuan BI. Lebih jauh, Onny mengatakan bahwa lembaga switching wajib memproses penyelesaian akhir di BI atas hasil kliring lembaga switchingyang sama. Sementara, lembaga services wajib memproses penyelesaian akhir di BI atas hasil kliring antar lembaga switching dan/atau antar penerbit. Setiap transaksi pembayaran domestic wajib diproses melalui GPN Keenam, branding nasional. Penyelenggaraan GPN dan pihak yang terhubung dengan GPN wajib mematuhi ketentuan BI mengenai branding nasional dan kebijakan skema harga serta wajib menyediakan fitur layanan untuk transaksi pembayaran yang diproses melalui GPN. Ketujuh, Laporan, Pengawasan, dan Sanksi. Terkait laporan, setiap penyelenggara GPN wajib menyampaikan laporan kepada BI yang terdiri dari laporan berkala dan laporan insidentil. Sedangkan, pengawan menurut aturan ini dapat dilakukan degan dua model, yakni pengawasan langsung dan tidak langsung. Sepanjang perlu, kata Onny, BI dapat melakukan pengawasan langsung kepada pihak yang melakukan kerjasama dengan penyelenggara GPN. Penyelenggara yang melanggar PBI ini dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis, denda, penghentian sementara atau seluruh kegiatan, dan/atau pencabutan penetapan dan/atau persetujuan sebagai penyelenggara GPN. sumber : hukumonline.com