APRINDO dukung terselenggaranya Internet Retailing Expo Indonesia.

January 25, 2018

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dukung terselenggaranya Internet Retailing Expo (IRX) Indonesia.

Indonesia Retailing Expo (IRX) edisi ketiga resmi dibuka pada Rabu (24/1) di Hotel Pullman Jakarta Central Park. Ajang yang akan berlangsung hingga tanggal 25 Januari 2018 ini, di buka oleh Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tjahya Widayanti didampingi oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy N.Mandey. Tjahya mengatakan IRX Indonesia sangat mendukung e-commerce, sebab pada ajang tersebut tidak hanya perdagangan online saja yang tampilkan tapi juga mengenai software-nya.

"Kemajuan teknologi ini suatu keniscayaan yang tidak bisa dihindari," ujar Tjahya dalam sambutannya.
Dia menjelaskan, lRX Indonesia pertama kali diadakan karena potensi yang sangat besar dari pasar ritel internet, yang telah berkembang sangat signifikan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Ajang ini akan menjadi titik temu bagi para penjual, peritel multi-kanal dan peritel online dengan para penyedia utama. Mereka juga akan saling berbagi pengalaman dan implementasi studi-studi kasus.
Meskipun memiliki tingkat penetrasi yang rendah untuk Internet dan e-commerce, sebuah laporan dari Research and Markets menunjukkan bahwa pasar ritel online Indonesia adalah yang terbesar di wilayah ini karena jumlah penduduk yang besar.
Faktor-faktor yang mendorong e-commerce adalah peningkatan penetrasi internet dan konektivitas mobile, serta demografis dan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, CNBC awal tahun ini juga melaporkan bahwa dengan populasi lebih dari 250 juta dan adopsi internet yang bertumbuh dengan cepat, kepulauan Indonesia akan menjadi surga belanja online dan proyeksi terkini mengatakan akan mencapai USD 130 miliar di tahun 2020.

Untuk itu, saat ini Kemendag sudah mempersiapkan regulasi untuk bisa menunjang perdagangan elektronik atau e-commerce. Dalam regulasi tersebut Kemendag memiliki empat tugas untuk e-commerce. Di antaranya mempersiapkan regulasi Peraturan Menteri (Permen) untuk penyelenggara e-commerce, dan menyiapkan rancangan peraturan pemerintah untuk transaksi belanja secara elektonik.
Selain itu, pemerintah juga akan segera memberlakukan pemungutan pajak e-commerce sehingga pelaku usaha tidak bisa bohong karena semua sudah tercatat. "Lalu mengedukasi pemangku kebijakan, terakhir mengedukasi juga para pelaku di bidang e-commerce," imbuhnya.

Ketua Umum Aprindo, Roy N. Mandey menyatakan akan menggenjot sekitar 25 persen ritel yang belum masuk online melalui edukasi secara massif, agar tahun ini seluruh ritel yang tergabung dalam Aprindo melek digital. Target lainnya anggota Aprindo dapat membuat toko online untuk memenuhi permintaan pasar yang dinilai semakin besar sejalan dengan tingginya penetrasi Internet dan smartphone di Indonesia.

"Kami akan melakukan edukasi kepada mereka yang belum go digital ini, karena tren hari ini semuanya kan serba digital," ujar Roy
Dia menjelaskan sekitar 25 persen ritel yang belum go digital tersebut merupakan peritel lokal yang ada di sejumlah daerah. Menurutnya, ritel yang sudah go digital akan semakin memudahkan industri tersebut untuk melakukan konsolidasi. "Kalau mereka sudah digital kan konsolidasi jadi semakin mudah, karena itu mereka perlu melakukan upgrade," katanya.
Menurut Roy, anggota Aprindo yang sudah mulai bertransformasi digital lebih didominasi oleh ritel terbuka (tbk) yang memiliki modal tidak terbatas. Dia mengatakan sampai saat ini ada sebesar 75 persen anggota Aprindo yang sudah bertransformasi ke digital.
"‎Kalau ritel yang sudah tbk, misalnya ada ekspansi, stakeholder tahu dan akan mengikuti itu. Dananya juga tidak terbatas seperti local retailer," ujarnya.

Kendati dewasa ini toko online tengah menjadi tren di masyarakat, tetapi Roy optimistis industri ritel akan tetap ada dan tidak akan tergerus digitalisasi tersebut. Dia menilai konsumen yang melakukan belanja online kini lebih didominasi berbelanja sejumlah produk elektronik dibandingkan produk lainnya.
"Menurut saya, ritel tidak akan tergerus dengan banyaknya toko online hari ini. Sejumlah negara maju meskipun sudah ada online, mereka juga tetap mempertahankan ritelnya," tuturnya.
‎Roy mengatakan, dewasa ini dibutuhkan sistem toko yang terintegrasi antara offline dan online,sehingga pelaku bisnis tidak kehilangan pasar untuk menghadapi era digital saat ini.

Untuk edisi ketiganya, IRX lndonesia ditargetkan menarik lebih dari 2.000 pengunjung ke sebuah eksibisi yang makin lebih beragam, dengan berbagai sesi bernilai tinggi dan lebih dari 50 penyedia solusi dalam bidang infrastruktur dan inovasi digital, pembayaran digital, penyediaan lastmile dan masih banyak lagi.
Dibanding ajang-ajang sebelumnya, tahun ini akan ada lebih banyak konten terkait berbagai topik di industri ini dan menarik pengunjung dari berbagai pemintaan. Dengan diperkenalkannya loka karya meja bundar, lebih dimungkinkan adanya wawasan yang lebih dalam dan pertukaran pengetahuan antara pakar-pakar industri dan delegasi.